Dunia Energi Logo Senin, 20 November 2017

China Makin Berminat Garap Energi Terbarukan

BKPM

JAKARTA – Ini peluang emas. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengidentifikasi minat investasi China di sektor energi terbarukan Indonesia makin tinggi. Buktinya, berdasarkan kunjungan BKPM ke negeri itu pada pertengahan bulan ini, China siap berinvestasi senilai US$2,16 miliar (atau setara dengan r Rp29,1 triliun, kurs Rp13.500 per dolar AS).

Ada empat perusahaan yang berminat untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Masin-masing satu perusahaan berniat mengolah  batubara menjadi methanol dengan investasi sebesar US$1,5 miliar  dan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi sebesar US$150 juta. Sementara dua  perusahaan produksi panel solar siap dengan nilai investasi masing-masing US$150 juta dan US$360 juta.

“Mereka sudah melakukan komunikasi dengan mitra lokal di Indonesia, kami akan mendorong minat investasi tersebut agar segera direalisasikan,” kata Kepala BKPM Franky Sibarani dalam keterangan tertulis, baru-baru ini.

Menurut dia, pihaknya melalui tim Marketing Officer China akan melakukan komunikasi intensif dengan investor terkait untuk mendorong investor agar memanfaatkan layanan izin investasi tiga jam. “Dari nilai minat investasi yang disampaikan, mereka dapat memanfaatkan layanan izin investasi tiga jam sehingga dapat segera mulai melakukan proses konstruksi,” jelasnya.

Para investor itu juga telah merencanakan proyek bersama dengan nilai rencana investasi sebesar US$1,5 miliar yang akan memproduksi 1,1 juta ton methanol per tahun. Produk methanol yang dihasilkan juga akan dibeli oleh PT Pertamina (sebagai off-taker) dan rencananya fase konstruksi tahap pertama dimulai pada kuartal ketiga 2016.

Franky menambahkan investor yang berminat untuk membangun produksi panel solar juga berencana untuk membangun proyek percontohan terlebih dahulu sebelum kemudian membangun fasilitas untuk produksi komersial.

Perusahaan berencana membangun komponen solar panel yaitu Silicon Wafers danPolycrystalline Silicon, teknologi pembuatan komponen tersebut tidak banyak dimiliki oleh perusahaan di China.(LH)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)