Dunia Energi Logo Rabu, 22 November 2017

Belanja Modal Terbesar Sugih Energy untuk Pengembangan Dua Blok Migas

JAKARTA– PT Sugih Energy Tbk (SUGI), emiten minyak dan gas, mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar US$ 25 juta tahun ini. yang sebagian besar dialokasikan untuk bisnis produksi gas dan minyak. Belanja modal itu dialokasikan untuk pengembangan Blok Selat Panjang senilai US$ 10 juta dan Blok Lemang US$ 15 juta serta US$ 1 juta untuk program seismik di Kalyani.

Pedro Flames, Chief Cinancial Officer Sugih Energy, tidak menyebutkan detail sumber pendanannya. Namun, pendanaaan belanja modal diperkirakan dari pinjaman atau loan bank.

“Capex akan digunakan untuk menyokong kegiatan operasional perseroan tahun ini di beberapa blok migas,” ujarnya.

Perseroan tahun ini menargetkan produksi gas sebesar 10 juta kaki kubik per hari (MMSCFD). Perseroan juga masih akan fokus untuk mengembangkan bisnis gasnya. Hal itu sama dengan yang dilakukan perseroan tahun lalu.

“Kami juga tetap menjalankan rencana produksinya minyak tahun ini dengan target produksi minyak sebesar 5.000 barel per hari. Sebagian besar produksi minyak perseroan akan berasal dari Blok Lemang,” kata Charile Wu, Direktur Operasional Sugih Energy.

Sugih Energy targetkan produksi gas 10 MMSCFD di dua blok.

Sugih Energy targetkan produksi gas 10 MMSCFD di dua blok.

Riyanto Soewarno, Direktur Utama Sugih Energy, menambahkan di bisnis hulu, prioritas perseroan adalah membawa Blok Lemang ke tahapan produksi sesuai dengan rencana pengembangan (PoD) yang telah disetujui oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Sedangkan di sisi perdagangan, perseroan fokus untuk terus membangun bisnis perdagangan minyak dengan meningkatkan volume perdagangan.

“Ke depan kami ingin efisiensi biaya agar perusahaan dapat melalui masa yang penuh tantangan di industri perminyakan. Selama lebih dari beberapa bulan terakhir kami bekerja keras dan 2016 kami berharap akan dapat terus meningkatkan pertumbuhan kinerja perusahaan,” ujar Riyanto.

Tahun lalu, perseroan membukukan pendapatan US$ 4 miliar dibandingkan periode tahun sebelumnya yang hanya US$ 5 juta. Pencapaian itu diperoleh perseroan di tengah tantangan dari kondisi pasar keuangan dan minyak bumi. (RA)

 

 

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)