Dunia Energi Logo Senin, 20 November 2017

Banjir Pasokan di Pasar Global Dorong Pelemahan Harga Minyak

Minyak mentah saat ini banjir pasokan

Minyak mentah saat ini banjir pasokan

 

JAKARTA– Harga minyak mentah kembali turun pada perdagangan Senin (21/12) waktu setempat atau Selasa pagi karena membanjirnya pasokan di pasar global, bahkan menyentuh level terendah 11 tahun terakhir ini. Harga minyak Brent turun US$ 51 sen menjadi US$ 36,35 per barel, ternedah sejak Juli 2004. Sementara harga minyak mentah AS naik US$1 sen US$34,74 setelah sempat tergelincir ke posisi US$33,98 .
Penurunan harga emas hitam ini seiring proyeksi pasokan minyak dunia akan kembali melebihi permintaan pada 2016. Harga minyak Brent terjun bebas ketimbang harga minyak mentah AS seiring dengan pasar yang menantikan berakhirnya larangan ekspor minyak mentah AS dalam 40 tahun terakhir. Presiden Barack Obama menandatangani aturan pada Jumat (18/12) yang mengakhiri larangan ekspor minyak mentah.

“Fundamentalnya sangat bearish. Suhu udara yang hangat saat ini membunuh pasar dan kelebihan pasokan memberatkan harga,” kata Phil Flynn, analis di Price Futures Group di Chicago, Amerika Serikat, seperti dikutip dari Reuters.
“Belum ada tanda-tanda signifikan kenaikan dalam permintaan dan kami belum melihat adanya pengurangan produksi yang berarti,” Ric Spooner, kepala analis di CMC Markets di Sydney, mengatakan kepada Bloomberg.

“Tidak ada yang benar-benar berubah di pasar minyak selama beberapa bulan terakhir kecuali dari harga.”

Harga komoditas telah jatuh lebih dari 60% dari di atas US$100 pada musim panas 2014. Harga telah merosot, terutama sejak 4 Desember ketika kelompok produsen minyak Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memutuskan untuk menentang pembatasan produksi, meskipun permintaan lesu dan pasokan membanjir.

Kelebihan pasokan kian memburuk, juga dipicu laporan perusahaan jasa minyak Baker Hughes pada Jumat pekan lalu bahwa jumlah rig pengeboran AS yang aktif menunjukkan peningkatan 17 rig menjadi 541 rig untuk pekan yang berakhir 18 Desember 2015.

“Ini menambah sentimen negatif yang sudah berlaku di pasar akibat meningkatnya persediaan”, kata Sanjeev Gupta, kepala praktik minyak dan gas Asia-Pasifik di pada organisasi jasa profesional EY.

Anggota parlemen AS pekan lalu mencabut larangan selama 40 tahun pada ekspor minyak, menandai perubahan bersejarah meskipun masih sangat simbolis di pasar berjangka.

Gupta memperingatkan itu bisa “berdampak negatif pada harga berjangka dalam jangka panjang”.

Meski konsumen menikmati harga bahan bakar minyak yang lebih rendah, eksportir minyak terbesar terpaksa merevaluasi mata uang mereka, menjual aset, dan bahkan mengumumkan utang untuk pertama kalinya karena mereka berusaha memperbaiki finansial mereka.

OPEC yang dipimpin Arab Saudi tetap bertahan pada kebijakan membanjiri pasar dengan produksi yang tinggi. Kebijakan tersebut dinilai tidak akan berubah meski harga yang lebih rendah akan memberatkan anggota-anggota kartel minyak ini.

Penurunan harga minyak saat ini maka hal itu merupakan kelanjutan dari penurunan yang dimulai pada akhir 2014 dan terus berlangsung hingga awal 2015 dan kemudian kembali naik sedikit. Kemungkinan terbesar turunnya harga minyak tersebut adalah harga minyak kembali kepada faktor penawaran dan permintaan dibandingkan dengan pada faktor lainnya. Pasalnya, saat ini tidak ada perubahan penting terhadap isu-isu politik yang mendorong harga turun dari level tertingginya.

Tekanan terhadap Rusia  hingga saat ini terus berlanjut sehingga negara itu kehilangan sumber utama penerimaannya dan hal itu membatasi kemampuannya untuk melakukan politik dengan bebas dan kuat. Demikian pula Iran yang masih dalam tekanan meskipun sanksi terhadap negara itu telah dicabut secara bertahap, terutama ekspor minyak yang menjadi poin yang paling penting.

Iran diperkirakan kembali mengekspor 3 juta barel minyak perhari. Dengan harga US$45 per barel, pendapatan negara itu sangat rendah (US$65,7 miliar per tahun) dibandingkan dengan US$146 miliar seandainya harganya US$ 100 per barel.

Demikian juga Rusia, penerimaan minyaknya turun dari US$ 400 miliar menjadi US$ 180 miliar per tahun yang secara signifikan memengaruh ekonomi negara itu.  Rusia  harus menambah ekspornya 25 juta barel per hari untuk menjaga tingkat penerimaan yang besar itu. Akan tetapi, kalaupun  negeri Beruang Merah itu  bisa meningkatkan produksinya maka pasar akan tenggelam oleh minyak dan harga pun akan kembali anjlok. Dengan demikian, berlanjutnya penurunan harga minyak menjadikan  Rusia terus tertekan.

Eropa juga sangat terpengaruh oleh anjloknya harga minyak minimal pada tahapan ini. Eropa telah mengoleksi mata uang  Euro dalam jumlah sangat besar akibat peningkatan pemompaan  uang dalam bentuk utang ke perekonomian negara-negara yang terpuruk semisal Yunani, Spanyol, Ciprus, dan Irlandia; dan ketidakmampuan negara-negara itu membayar utang dan meningkatkan ekspornya. Karena itu, Eropa bersandar pada kenaikan harga minyak untuk memudahkan keluarnya Euro dari zone Uni Eropa, yang bisa dianggap sebagai bentuk dari kebijakan quantitative easing.

Ketika harga minyak berkisar US$100, faktur pembelian minyak Eropa sekitar US$456 miliar per tahun dengan kurs US$1,5 per Euro, setara dengan 304 miliar Euro per tahun. Dan ketika harga minyak turun ke angka US$45 per barel, faktur minyak Eropa menjadi US$205 miliar atau setara 136 miliar Euro. Artinya, jumlah Euro yang dikeluarkan dari zona Uni Eropa menurun sangat besar. Karena itu, bank-bank Eropa terpaksa menurunkan kurs Euro untuk menaikkan faktur pembelian Eropa dalam Euro ke angka 195 miliar Euro. Namun demikian, angka itu masih jauh lebih kecil dari faktur sebelumnya (304 miliar Euro).

Berlanjutnya penurunan harga minyak memberi “peluru” baru bagi AS untuk menekan negara-negara dan entitas-entitas yang dapat menyaingi negara itu atau memengaruhi politiknya secara global. Harga minyak diproyeksikan terus turun bahkan mendekati US$ 30 per barel. (DR)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)