Dunia Energi Logo Sabtu, 18 November 2017

Bangun Smelter, Antam-Inalum Gandeng Aluminium Corporation of China

JAKARTA – PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dan PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau Inalum, dua badan usaha milik negara, menggandeng Aluminium Corporation of China untuk membangun dan mengoperasikan Smelter Grade Alumina Refinery di Mempawah, Kalimantan Barat. Aluminum Corporation of China merupakan mitra strategis yang   akan   membawa   kapabilitas   teknologi dan pendanaan untuk proyek Smelter Grade Alumina.

Konsorsium tiga perusahaan tersebut akan memulai studi yang dibutuhkan untuk mencari kelayakan teknis, ekonomi, hukum, dan komersial dari proyek smelter yang akan dibangun. Studi dimulai setelah ketiga perusahaan menandatangani nota kesepahaman pada Rabu lalu.

Tedy Badrujaman, Direktur Utama Aneka Tambang atau Antam, mengatakan penandatanganan   nota kesepahaman    merupakan langkah lanjutan dalam pembangunan proyek smelter grade alumina setelah Antam dan Inalum sepakat dalam pendirian perusahaan patungan pada   Oktober 2015.

“Selain merefleksikan komitmen hilirisasi Antam, proyek smelter grade alumina juga mencerminkan sinergi antar BUMN.” Kata Tedy

Pabrik   smelter grade alumina yang akan dibangun memiliki   kapasitas dua   juta   ton     alumina per tahun dengan kebutuhan bijih bauksit sebesar enam juta wmt per tahun. Pembangunan pabrik dilakukan secara   bertahap dengan kapasitas tahap pertama sebesar satu juta ton SGA per tahun. Sedangkan satu juta ton alumina tahap kedua akan dibangun   setelah   tahap   pertama   direalisasikan.

Alumina   yang dihasilkan diharapkan akan memenuhi kebutuhan bahan baku Inalum, yang saat ini masih diimpor. Disisi lain, produksi bijih bauksit Antam yang sebelumnya tidak bisa diekspor seiring kebijakan larangan ekspor mineral mentah, akan bisa dimanfaatkan untuk bahan baku pabrik smelter grade alumina.

Antam hingga sembilan bulan pertama 2015 mencatat pendapatan Rp 9,04 triliun, naik 56% dibanding periode yang sama 2014. Peningkatan pendapatan ditopang kenaikan signifikan volume penjualan komoditas emas hingga 129%menjadi 12.648 kg. Di tengah volatilitas harga komoditas, perseroan membukukan laba kotor sebesar Rp422,68 miliar.

Dengan adanya revaluasi aset yang dilakukan, laba komprehensif Antam tercatat sebesar Rp1,44 triliun. Namun perseroan tercatat membukukan rugi bersih Rp 1,04 triliun pada sembilan bulan tahun ini akibat beban lain-lain yang bersifat non-kas.(AT)

 

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)