Dunia Energi Logo Jumat, 17 November 2017

Aramco Masuk Bisnis Hilir Migas?

JAKARTA – Investasi di sektor hulu migas Indonesia barangkali kurang menggiurkan akibat jumlah cadangan yang kecil dan belum adanya kepastian hukum. Namun, sektor hilirnya tetap menggiurkan karena faktor jumlah penduduk yang besar sehingga konsumsi migas akan terus naik.

Maka, tidak mengherankan apabila bamyak perusahaan migas asing berminat untuk merambah bisnis di sektor hilir. Sejauh ini, masyarakat sudah cukup familiar dengan sejumlah pom bensin milik asing seperti Shell, Total dan Petronas meskipun nama yang terakhir ini kian tenggelam.

Dalam waktu dekat, salah satu raksasa dari Timur Tengah, Saudi Aramco, bisa jadi akan berbisnis di sini. Keinginan Aramco untuk berbisnis di hilir migas seperti menjual BBM, dimungkinkan secara aturan. “Apalagi, PT Pertamina (Persero) uga membuka diri untuk bekerja sama dengan perusahaan minyak nasional Arab Saudi tersebut,” kata Menteri ESDM Sudirman Said, usai menerima kunjungan Dubai Port Corporation beberapa waktu lalu.

Menurut dia, peluang kerja sama Saudi Aramco dengan Pertamina cukup besar. Bahkan bisa saja keduanya membentuk bisnis bersama. “Hal-hal semacam itu dalam global setting sesuatu yang biasa. Tidak ada yang aneh,” tambahnya.

Meski peluang berbisnis terbuka lebar, namun Saudi Aramco harus tetap mengikuti aturan yang berlaku, termasuk juga harus tetap mengutamakan kepentingan nasional.

Kerja sama di hilir migas seperti petrokimia, storage dan SPBU merupakan salah satu keinginan Saudi Aramco selain berinvestasi kilang di Indonesia. Perusahaan tersebut berminat berinvestasi sebesar US$24 miliar yang akan digunakan untuk membangun satu kilang minyak baru senilai US$10 miliar di Tuban dengan kapasitas produksi 300.000 barel per hari dan memodernisasi 3 kilang milik PT Pertamina senilai US$14 miliar di Dumai, Balongan dan Cilacap dengan total kapasitas 400.000 barel per hari. Jadi total akan ada penambahan produksi BBM sebesar 700.000 barel per hari.

Dengan tambahan 700.000 barel dari 4 kilang itu, tidak akan terjadi over suplai karena pada 10 tahun mendatang, kebutuhan BBM mencapai 2,5 juta barel per hari.(LH)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)