Dunia Energi Logo Sabtu, 18 November 2017

Adaro Mampu Tingkatkan Produksi Batubara Tanpa Belanja Alat Berat

Kegiatan penambangan batubara PT Adaro Energy Tbk (ADRO).

Kegiatan penambangan batubara PT Adaro Energy Tbk (ADRO).

JAKARTA – Meski masih harus mengencangkan ikat pinggang karena pasar dan harga batubara dunia belum sepenuhnya pulih, namun PT Adaro Energy Tbk tetap mampu meningkatkan produksinya. Sepanjang 2013, produsen batubara terbesar kedua di Indonesia ini berhasil memproduksi 52,3 juta ton batubara, tanpa harus berbelanja unit-unit baru alat berat.

Corporate Secretary Adaro, Devindra Ratzarwin menuturkan, Adaro di tahun lalu mampu mencapai rekor tertinggi produksi tahunan, dan mencapai rentang atas dari panduan produksi batubara yang ditetapkan 50 – 53 juta ton.

“Produksi batubara Adaro di 2013 tumbuh 11% y-o-y menjadi 52,3 juta ton, dari sebelumnya 47,2 juta ton. Produksi pada Kuartal IV – 2013 mencapai rekor tertinggi sebesar 13,59 juta ton, yang merupakan rekor tertinggi kedua untuk produksi kuartalan,” ungkap Devindra di Jakarta, Senin, 10 Maret 2014.

Pencapaian ini boleh dibilang luar biasa. Mengingat belanja modal Adaro di 2013 turun 66% menjadi USD 165 juta. Penurunan belanja modal ini, kata Devindra, sejalan dengan target belanja perusahaan yang ditetapkan pada rentang USD 150 juta – USD 200 juta.

“Adaro mencapai rekor tertinggi produksi tahunan tanpa adanya pengeluaran untuk alat berat,” tukasnya. Sebagai hasil dari arus kas yang kuat dari aktivitas operasional dan penurunan belanja modal, arus kas bebas Adaro pada 2013 naik 141% menjadi USD 568 juta.

Menurut Devindra, dalam kondisi pasar batubara yang belum pulih ini, Adaro tetap mampu menjaga posisi keuangan yang kokoh untuk pertumbuhan jangka panjang. Likuiditas Adaro tetap solid dengan akses kas sekitar USD 1,1 miliar, yang memungkinkan perusahaan untuk mengatasi siklus penurunan saat ini, serta terus menjalankan model bisnisnya.

Selain itu, Adaro juga terus menurunkan posisi utang dan mengurangi utang berbunga sebesar 9% menjadi USD 2.221 juta, sehingga rasio utang bersih terhadap EBITDA menjadi1,87x dan rasio utang bersih terhadap ekuitas menjadi sebesar 0,48x per akhir 2013.

“Adaro terus menjaga kas, memperkuat struktur permodalan dan memperpanjang profil masa jatuh tempo pinjamannya,” kata Devindra lagi.

(Abdul Hamid / duniaenergi@yahoo.co.id)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)