Dunia Energi Logo Senin, 20 Agustus 2018

Adaro Estimasi Kenaikan Produksi dan Penjualan di Kuartal III

JAKARTA- Manajemen PT Adaro Energy Tbk (ADRO), emiten energi terintegrasi, memproyeksikan kuartal III 2018 volume produksi dan penjualan batubara meningkat dibandingkan kuartal I dan kuartal II 2018. Proyeksi kenaikan tersebut antara lain didukung oleh peningkatan area lokasi penambangan PT Adaro Indonesia, anak usaha Adaro Energy, yang telah dikembangkan.

“Estimasi peningkatan volume produksi dan penjualan batubara Adaro Energy juga ditopang dari percepatan waktu pengiriman alat penambangan baru dan perkiraan kondisi cuada yang lebih baik,” ujar Mahardika Putranto, Head of Corporare Secretary & Investor Relations Division Adaro Energy, dalam Laporan Operasional Kuartalan Kedua 2018 perusahaan yang diterima Dunia-Energi, Selasa (31/7) malam.

Adaro Energy mempertahankan pandua produksi batubara sepanjang tahun ini berkisar 54 juta-56 juta metrik ton. Batubara Adaro Energy diproduksikan oleh tiga anak usaha, yaitu PT Adaro Indonesia, Balangan Coal Companies, dan Adaro MetCoal Companies.

Selama semester I 2018, Adaro memproduksi batubara sebanyak 24,06 juta metrik ton, turun 4% dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 25,13 juta metrik ton. Penurunan juga terjadi pada penjualan sebesar 6% dari 25,27 juta metrik ton menjadi 23,80 juta metrik ton.

“Rasio pengupasan lapisan penutup justru naik 10%, dari 111,78 juta bcm menjadi 123,01 juta bcm,” ujar Mahardika.

Per kuartalan, sebenarnya produksi dan volume penjualan serta pengupasan lapisan penutup justru naik dibandingkan kuartal sebelumnya. Pada kuartal II 2018, produksi mencapai 13,11 juta metrik ton, naik dari kuartal I yang hanya 10.95 juta metrik ton.

Volume penjualan dari 10,93 juta metrik ton, naik 18% menjadi 12,87 juta metrik ton pada kuartal II. Demikian pula pengupasan lapisan penutup naik 28% dari 54,05 juta metrik ton menjadi 68,95 juta metrik ton.

Baca juga  Wika Bidik Kontrak Proyek Pembangkit Listrik Rp4,9 Triliun

Adaro Energy proyeksikan cuaca baik dan peningkatan peralatan di Adaro Indonesia akan berpengaruh positif pada produksi dan penjualan di kuartal III 2018 (Foto: Dok ist)

Menurut Mahardika, pada kuartal II 2018, suplai batubara tetap ketat karena beberapa negara penghasil batubara mengalami masalah pasokan yang disebabkan oleh hambatan infrastruktur sampai kondisi cuaca yang buruk. Permintaan terhadap batubara tetap tinggi karena adanya aktivitas pengisian persediaan seiring mulainya musim panas di belahan bumi utara, produksi energi nuklir yang rendah di Jepang dan Korea Utara, dan peningkatan produksi listrik di China dan India untuk menunjang kenaikan aktivitas ekonomi.

Harga global coal Newcastle (GCN) mencapai AS$120/t pada Juni 2018, dan dalam kuartal ini, rata-rata GCN mencapai $105,32/t, atau naik 3% dari rata-rata pada kuartal I 2018.

Inspeksi tambang yang dilakukan secara berkesinambungan di China memberikan tekanan terhadap produksi batubara di negara tersebut. Produksi domestik India tetap tidak mencapai target walaupun naik secara year on year sehingga mengakibatkan pemadaman listrik di beberapa daerah di bagian timur negara ini.

Ketidakcukupan suplai domestik untuk memenuhi permintaan mendorong kedua negara ini untuk menambah impor batubara. Impor batubara ke China naik 20% pada semester I 2018, dan berdasarkan data tracking vessel yang dikutip oleh Reuters, impor batubara ke India dalam tujuh bulan pertama 2018 diperkirakan meningkat 9% y-o-y.

Di Indonesia, setelah pemerintah mengumumkan penetapan harga tertinggi untuk perusahaan utilitas domestik, sebagian besar produsen batubara berencana meningkatkan produksi untuk meningkatkan porsi ekspor walaupun cuaca hujan lebat melanda beberapa wilayah produksi di Indonesia. Data awal dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan bahwa produksi batubara Indonesia meningkat 18% year on year pada semester I 2018.

Baca juga  Pemerintah Siap Perpanjang Masa Eksplorasi Lima Wilayah Kerja Panas Bumi

“Satu peristiwa penting di kuartal ini adalah pembatalan negosiasi harga batubara antara Tohoku Electric dan Glencore untuk kontrak Maret/April. Perusahaan listrik Jepang saat ini diperkirakan akan lebih banyak menggunakan harga spot atau berbasis indeks serta mendiversifikasi suplier batubara yang memasok mereka,” katanya. (DR)

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.