Dunia Energi Logo Selasa, 21 November 2017

Adaro Bayar Pajak 2012 USD 330,42 Juta dan Royalti USD 383,70 Juta

JAKARTA – PT Adaro Energy Tbk sepanjang 2012 meraup laba sebesar USD 385,35 juta, atau turun 30% dibandingkan laba 2011 sebesar USD 550,35 juta. Namun produsen batubara terbesar kedua di Indonesia ini tetap melaksanakan kewajibannya membayar Pajak Penghasilan sebesar USD 330, 42 juta dan Royalti ke pemerintah sebesar USD 383,70 juta.

Hal itu terungkap dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Adaro yang diselenggarakan pada Jumat, 19 April 2013 di Jakarta. Agenda RUPST yang telah disetujui oleh Pemegang Saham diantaranya Laporan Tahunan Perseroan, yang antara lain memuat Laporan Keuangan Konsolidasian dan kinerja operasional, serta pengesahan atas Laporan Keuangan Konsolidasian Perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada 31 Desember 2012.

Dalam RUPST itu dilaporkan, pada 2012 Adaro membukukan pendapatan usaha sebesar USD 3,72 miliar, turun 6,6% dari USD 3,99 miliar di 2011. Sementara laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk tercatat sebesar USD 385,35 juta, atau turun 30% dari USD 550,35 juta di 2011 akibat penurunan volume penjualan, dan harga jual rata-rata yang lebih rendah dari tahun sebelumnya, karena kondisi pasar batubara yang belum kondusif.

Disebutkan bahwa laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk ini, sudah memperhitungkan kontribusi kepada Pemerintah Republik Indonesia dalam bentuk pajak penghasilan dan royalti yang masing-masing sebesar USD 330,42 juta dan USD 383,70 juta. Adaro juga mencatatkan EBITDA sebesar USD 1.088 juta, sesuai dengan pedoman tahun 2012 sebesar USD 1.000 juta sampai dengan USD 1.300 juta.

Presiden Direktur Adaro Energy, Garibaldi Thohir menyatakan bersyukur dapat memenuhi target EBITDA 2012, dan catatan produksi pada kuartal ke empat tahun 2012. “Usaha kami dipengaruhi oleh pasar batubara dunia, sehingga tidak dapat terhindar dari dampak pelemahan harga batubara yang terjadi di hampir sepanjang tahun 2012,” ujarnya.

Menanggapi kondisi tersebut, menurut Garibaldi pihaknya berupaya fokus pada konsolidasi dan efisiensi, guna memperkuat perusahaan. “Dengan berlanjutnya pertumbuhan Indonesia dan seluruh ASEAN, kami akan siap menjadi penyedia energi terkemuka dan memberikan kontribusi bagi ekonomi nasional,” ujarnya.

Produksi dan Penjualan Menurun

Produksi dan volume penjualan batubara Adaro untuk tahun buku 2012 (FY12) menurun masing-masing sebesar 1,0% dan 4,3% y-o-y menjadi 47,2 juta ton dan 48,6 juta ton. “Namun, dengan mulai pulihnya pasar batubara pada kuartal ke IV tahun 2012, kami dapat memanfaatkan kondisi tersebut dan mampu menghasilkan rekor produksi kuartalan dengan volume sebesar 13,3 juta ton,” kata Garibaldi.

Ia melanjutkan, walaupun volume produksi 2012 dibawah pedoman produksi sebesar 48 juta ton sampai dengan 51 juta ton, namun pihaknya telah membuat keputusan untuk tidak akan melakukan penambahan penjualan pada saat harga batubara belum stabil, dan tetap menjaga strategi untuk mempertahankan harga yang menguntungkan.

Laporan posisi keuangan konsolidasian Perseroan per 31 Desember 2012 tetap solid, dengan kewajiban bersih terhadap terhadap 12 bulan EBITDA, meningkat menjadi 1,79x pada akhir tahun 2012 dari sebelumnya 1,05x pada pada akhir tahun 2011, dan kewajiban bersih terhadap ekuitas adalah 0,65x pada akhir tahun 2012 atau hampir setara y-o-y.

“Likuiditas tetap kuat dengan akses kas hampir mencapai USD 920 juta, termasuk USD 420 juta committed funding yang belum digunakan dari fasilitas pinjaman bank jangka panjang,” kata Garibaldi lagi.

Asset Bertambah

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa total aset Adaro Energy tercatat sebesar USD 6,69 miliar atau naik 18,3% dibandingkan tahun 2011. Sedangkan total kewajiban naik sebesar 15% menjadi USD 3,70 miliar. Total ekuitas Perseroan tumbuh sebesar 23% menjadi USD 2,99 miliar, yang disebabkan adanya peningkatan laba ditahan dari laba bersih tahun buku 2012.

Agenda RUPST berikutnya menyetujui penggunaan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar USD 385,35 juta untuk hal-hal sebagai berikut:

a.     Sebesar USD 3,85 juta digunakan sebagai penyisihan cadangan, sesuai dengan ketentuan Pasal 70 Undang Undang Perseroan Terbatas No. 40 Tahun 2007.

b.     Sebesar USD 117,07 juta atau 30,38% dari laba tahun berjalan Perseroan digunakan untuk pembayaran dividen tunai final, yang akan diperhitungkan dengan dividen tunai interim sebesar USD 76,77 juta yang telah dibayarkan pada tanggal 12 Juni 2012 dan 15 Januari 2013, sedangkan sisanya sebesar USD 40,30 juta akan digunakan untuk pembayaran dividen tunai. Jadwal pembayaran dividen tunai dimaksud akan diumumkan dalam dua surat kabar harian nasional dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

c.      Sebesar USD 264,43 juta akan dimasukan sebagai laba ditahan.

Direksi Baru Adaro

RUPST juga menyetujui penunjukan seluruh anggota Dewan Komisaris Perseroan untuk lima tahun berikutnya, dan penunjukan anggota Direksi baru yaitu Julius Aslan. Susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perseroan menjadi:

Presiden Komisaris                 : Edwin Soeryadjaya

Wakil Presiden Komisaris       : Ir. Theodore Permadi Rachmat

Komisaris                                : Ir. Subianto

Komisaris (Independen)          : Ir. Palgunadi Tatit Setyawan

Komisaris (Independen)          : Dr. Ir. Raden Pardede

Presiden Direktur                    : Garibaldi Thohir

Wakil Presiden Direktur          : Christian Ariano Rachmat

Direktur                                   : Sandiaga S. Uno

Direktur                                   : David Tendian

Direktur                                   : Chia Ah Hoo

Direktur                                   : M. Syah Indra Aman

Direktur                                   : Julius Aslan

Selanjutnya RUPST memberikan kuasa dan kewenangan kepada Dewan Komisaris Perseroan untuk menunjuk Kantor Akuntan Publik yang terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan yang akan mengaudit Laporan Keuangan Perseroan untuk tahun buku yang sedang berjalan dan akan berakhir pada tanggal 31 Desember 2013, dan selanjutnya memberi kuasa dan wewenang kepada Dewan Komisaris Perseroan untuk menetapkan jumlah honorarium untuk Kantor Akuntan Publik tersebut beserta persyaratan lainnya.

(Iksan Tejo/duniaenergi@yahoo.co.id)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)