Dunia Energi Logo Kamis, 21 Juni 2018

ABM Siapkan Dana US$500 Juta untuk Akuisisi Tambang Batu Bara

JAKARTA – PT ABM Investama Tbk (ABMM) akan fokus memperkuat bisnis pertambangan dan penjualan batu bara di tahun 2018. Penguatan harga batu bara merupakan momentum yang akan dioptimalkan perseroan.

Sejak kuartal II 2016 hingga saat ini, harga batu bara di pasar global terus menunjukkan tren penguatan. Hal ini didukung oleh berbagai faktor, yang utama antara lain kebijakan China sebagai produsen dan konsumen batu bara terbesar di dunia selama tahun 2017 yang mengurangi produksi batu bara domestiknya.

“Di level domestik konsumsi batu bara terus meningkat sejalan dengan beroperasinya sejumlah pembangkit listrik baru berbasis batu bara,” kata Adrian Erlangga, Direktur Keuangan ABM usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) di Jakarta, Selasa (8/5).

Harga Acuan Batu Bara (HBA) 2017 sebesar US$ 85,9 per metrik ton, meningkat 39% dibandingkan HBA  2016 sebesar US$ 61,8 per metrik ton. Sementara mengacu pada index Newcastle,  harga batubara global di akhir April 2018 sudah menembus level US$ 100,10 per metrik ton.

Menurut Adrian, pada tahun ini ABM Investama akan memperkuat posisinya sebagai supply chain batu bara melalui integrasi dan sinergi anak usahanya secara end-to-end. Sinergi melibatkan anak usaha di bidang kontraktor tambang, logistik, maintenance services, hingga trading batu bara.

Pada 2017, ABM berhasil membukukan pendapatan bersih sebesar US$690,73 juta, meningkat 16,94% dibanding 2016 sebesar US$590,70 juta.

Peningkatan permintaan batu bara secara global juga mendorong volume penjualan batu bara 2017 mencapai 7,9 juta ton, naik  25% dibanding 2016 sebesar 6,35 juta ton.

Adrian menambahkan, sebagai upaya untuk memperkuat bisnis batu bara, pada 2017 ABM telah menerbitkan global bond sebesar US$350 juta. Penerbitan global bond memperkuat ruang ekspansi ABM di industri batu bara.

Baca juga  Tanggung Beban Selisih Harga BBM, Laba Bersih Pertamina 2017 Turun 24%

“Akuisisi tambang baru karena tambang yang sudah ada tidak cukup untuk tingkatkan kapasitas. Dananya dari loan dari dua bank, US$200 juta dan US$ 150 juta, dan cash dari bond US$150 juta. Prefer tambang di Kalimantan yang sudah operasi produksi, dengan kalori batu bara 4.200. Diharapkan dengan akuisisi bisa menyumbang EBITDA tahun ini,” kata Adrian.(RA)

Tinggalkan Komentar

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.