Dunia Energi Logo Minggu, 17 Desember 2017

Harga Minyak Stabil di Level US$41 Per Barel

NEW YORK – Serangan bom di Brussel, Belgia, yang menewaskan puluhan orang sedikit berpengaruh pada harga minyak penutupan perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB). Patokan Amerika Serikat, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Mei turun tujuh sen menjadi US$41,45 per barel di New York Mercantile Exchange, seperti dikutip AFP. Patokan Eropa minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman Mei naik 25 sen menjadi US$41,79 per barel di perdagangan London.

Analis mengatakan serangan seperti itu cenderung menghambat aktivitas ekonomi yang dapat menekan harga minyak, terutama karena Bandara Zaventem Brussel adalah salah satu dari dua target pengeboman, yang diklaim dilakukan kelompok ISIS.”Apa yang telah kita lihat di masa lalu dengan serangan-serangan teror, selalu ada sedikit kekhawatiran hal itu akan mengakibatkan penurunan pada permintaan,” kata Phil Flynn dari Price Futures Group.

Bandara Brussel yang sangat populer di Eropa, sehingga ada kekhawatiran orang akan membatalkan liburan, dan kemungkinan bahwa permintaan untuk bahan bakar jet akan turun.

Abdallah el-Badri, Sekretaris Jenderal OPEC, mengatakan 15 negara atau 16 negara akan bergabung dalam pembicaraan tentang pembatasan produksi di Doha pada 17 April 2016, seperti dikutip Bloomberg News, Senin.

Badri memperkirakan minyak mentah akan mengalami kenaikan moderat daripada pencapaian tingkat tinggi sebelumnya.Kementerian minyak Qatar telah mengundang Iran untuk pertemuan, meskipun pemerintah Teheran bersikeras tidak siap menerima pembatasan produksi.

Prospek pengecualian Iran telah membuat harga minyak mentah dunia di bawah tekanan, meskipun peningkatan produksi Iran sejauh ini juga diimbangi penurunan tajam produksi anggota OPEC lainnya, terutama Irak.

Menurut laporan bulanan terbaru OPEC, Iran memproduksi 3,1 juta barel minyak mentah per hari pada Februari, naik dari 2,9 juta pada Januari. Keseluruhan produksi OPEC turun 175.000 barel per hari pada Februari menjadi rata-rata 32,28 juta barel per hari, terutama karena penurunan tajam dalam produksi Irak dan penurunan lebih kecil di Nigeria dan Uni Emirat Arab.

Michael McCarthy, analis CMC Markets, yang berbasis di Sydney, mengatakan pedagang tidak berharap banyak dari pertemuan Qatar. “Saya akan terkejut jika banyak orang di pasar minyak banyak berharap untuk pertemuan ini,” kata McCharty kepada AFP.(AT/ANT)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)