Dunia Energi Logo Kamis, 23 November 2017

Stop Produksi, Potensi Kerugian Tri Wahana Capai US$28,8 Juta

BOJONEGORO – PT Tri Wahana Universal, perusahaan yang terafiliasi dengan PT Saratoga Investama Sedaya (SRTG) mencatat potensi kerugian atau hilangnya potensi pendapatan (opportunity lost) sekitar US$ 480.000 atau lebih dari Rp 6 miliar per hari dengan asumsi harga minyak US$ 30 per barel akibat terhentinya produksi kilang. Perusahaan pengelola kilang mini yang tidak mendapatkan pasokan minyak mentah sejak 16 Januari 2016 dan akhirnya berhenti produksi pada 20 Januari 2016 telah mencatat opportunity lost US$28,8 juta.

“TWU terpaksa harus menghentikan produksi sementara, karena kami masih menunggu kepastian dari pemerintah terkait formula harga mulut sumur dan alokasi minyak mentah seperti yang sebelumnya diterima TWU,” kata Rudy Tavinos, Presiden Direktur Tri Wahana saat ramah tamah dengan sejumlah media lokal dan nasional di lokasi kilang mini TWU di Bojonegoro, Jawa Timur, Kamis (10/3).

Hingga saat ini Tri Wahana (TWU) masih menunggu kepastian formula harga dan pasokan minyak. Selama ini pasokan minyak mentah TWU berasal dari fasilitas Early Oil Expansion (EOE) dan Early Production Facility (EPF) Lapangan Banyu Urip, Blok Cepu dengan total 16.000 barel per hari (bph) dengan formula harga mulut sumur.

Disisi lain, Tri Wahana tetap berencana mendukung langkah pemerintah untuk mengembangkan kilang mini di seluruh Indonesia guna meningkatkan ketahanan energi nasional demi kemaslahatan masyarakat dan bangsa Indonesia.

“TWU berkomitmen dalam mendukung regulasi dan amanat yang akan diberikan oleh Pemerintah dalam upaya mencapai kedaulatan energi melalui pengembangan kilang minyak mini. Kilang mini TWU dapat menjadi referensi bagi pemerintah dan pihak-pihak lain dalam membangun kilang-kilang mini yang lebih banyak di Indonesia,” kata Rudy.

Pemerintah memiliki program pengembangan kilang, sebagaimana telah diatur Peraturan Presiden (Perpres) No. 146 Tahun 2015 mengenai pelaksanaan pembangunan kilang minyak di Indonesia, yang terbit pada Desember 2015 lalu. Perpres ini sebagai landasan dasar ketetapan Peraturan Kementerian ESDM tentang kilang mini yang saat ini masih difinalisasi.(AT)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)