Dunia Energi Logo Rabu, 22 November 2017

Konsistensi Kebijakan BBM Penting untuk Jaga Stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi

JAKARTA – Pemerintah berkomitmen untuk konsisten menjalankan kesepakatan dalam kebijakan harga bahan bakarminyak (BBM) dengan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Apalagi konsistensi pelaksanaan kebijakan penting untuk menjaga stabilitas dan pertumbuhanperekonomian.

“Untuk itu, saat ini kita konsisten untuk melaksanakan kesepakatan. Nanti akan dilihat harga rata-rata sepanjang Januari, Februari, danMaret,” ujar IGN Wiratmadja Puja, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kamis (28/1).

Pada akhir Desember 2015, pemerintah dan DPR sepakat menurunkan harga BBMsesuai dengan keekonomian dan mulai berlaku pada 5 Januari 2016 dan akan dievaluasi pada tiga bulan ke depan. Harga premium pun turun Rp 200 per liter menjadi Rp 7.050 per liter untuk daerah Jawa Bali dan Rp 5.650 per liter untuk solar, turun Rp 300 dari sebelumnya Rp 5.950 per liter.

Berly Martawardaya, pengamat perencanaan dan kebijakan energi dari Universitas Indonesia,mengatakan formula yang ada saat ini untuk menghitung harga BBM per tiga bulan sebaiknya tetap dilaksanakan. Tren penurunan harga minyak yang saat ini berada di level US$30 per barel, bahkan sempat bergerak hingga US$26 per barel, harus disikapi secara hati-hati.  Pasalnya, kondisi harga saat ini hanya bersifat sementara, bisa kembali turun namun juga tidak menutup kemungkinan untuk bergerak naik.

“Kalau harga naik lagi, maka harus naikkan BBM domestik. Padahal harga BBM gampang turun tapi susah naik,” kata Berly.

Satya W Yudha, Anggota Komisi VII DPR, mendukung langkah pemerintah untuk tetap mematuhi periodisasi penetapan harga BBM per kuartalan. Pemerintah harus berhati-hati dalam menentukan kebijakan harga BBM. “Kejatuhan harga minyak dunia hingga di bawah US$ 40  per barel telah memukul keuangan banyak negara, termasuk  produsen minyak dan gas bumi,” katanya.

Arab Saudi, produsen utama minyak dunia, anggaran pemerintah itu defisit hingga US$ 98 miliar atau sekitar Rp1.372 triliun. Untuk mempersempit bolong tersebut, pemerintah tersebut memutuskan menaikkan harga bahan bakar hingga 50%. Walaupun terlihat tinggi, kenaikantersebut hanya menjadi 0,9 rial atau sekitar US$ 24 sen per liter.

Kinerja keuangan sejumlah perusahaanmigas global juga mengalami penurunan signifikan. ExxonMobil, perusahaan migasterbesar di dunia, mencatatkan pendapatan sebelum pajak  hingga kuartal III 2015 turun 53% dibandingkanperiode sama tahun lalu. Chevron turun 54%, Shell turun 65%, Statoil turun 57%,Total turun 39%, dan PTT Thailand turun 69%.

Penurunan terbesar juga dialamiPemex, perusahaan migas Meksiko, sebesar 111%. Perusahaan migas global juga mengurangi jumlah tenaga kerja. Chevron mengurangi 7.000 karyawan di seluruhdunia, BP 4.000 karyawan, Shell 2.800 karyawan, dan ConocoPhillips 2.000 karyawan. Dua perusahaan jasa migas terbesar di dunia, yaitu Schlumberger dan Halliburton, masing-masing mengurangi 20 ribu dan 18 ribu orang karyawannya.  Budget investasi perusahaan migas global tahun ini juga turun dari US$ 595 miliar menjadi US$ 522 miliar, terendah dalam enam tahun terakhir.

Chevron menurunkan investasi menjadi hanya sekitar US$ 8miliar, Total sekitar US$ 3 miliar, ConocoPhillips US$ 2,6 miliar, Shell US$ 2miliar, BP US$ 2 miliar, dan China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) US$ 1,1 miliar.

Momentum Tepat

Rinaldy Dalimi, Anggota Dewan Energi Nasional, mengatakan penurunan hargaminyak saat ini seharusnya dilihat dari dua sisi, benar pendapatan negaraberkurang dari sisi hulu, tetapi dana impor BBM dan minyak mentah jugaberkurang, dan biaya produksi juga berkurang. Di sisi lain, dalam Kebijakan Energi Nasional, pemerintah diminta mengurangi ekspor energi fosil secara bertahap dan memberhentikannya pada suatu saat nanti. Artinyapemerintah sudah harus mengurangi ketergantungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dari komoditi energi.

“Ini momentum yag paling tepatuntuk melakukan itu, yaitu mencari komoditi lain sebagai sumber APBN,” tegas dia.

Menurut Rinaldy, Indonesia kaya akan bahan-bahan tambang mineral, yangmewajibkan untuk diolah, ditingkatkan nilai tambahnya sehingga harga jualnya akan berlipat ganda. “Saatnyapemerintah melihat jangka panjang, melebihi dari periode satu rezimpemerintahan,” tandas Rinaldy.(RA/EA)

Berikan kami pemikiran anda

(dimulai dengan http://)